PC IMM Lampung Selatan
Lamsel

Karakter Pancasila oleh Andi Pebriudin, S.Pd

Siswa dengan akhlak (Afektif) yang mulia, Skill high quality(Ketrampilan berkualitas tinggi), dan Kongnitif (Pengetahuan) yang luas. Sebagaimana visi yang tertuang dalam pembukaan UUD 1945 “mencerdaskan kehidupan bangsa”. Cerdas dalam artian cerdas iman dan akhlak,  cerdas Life Skill, dan cerdas ilmu.

Tiga poin penting, baik dalam akhlak, bagus dalam ketrampilan, dan unggul dalam pengetahuan. Nampaknya kita saksikan kombinasi 3 unsur menemui jalan terjal. Buktinya negara kita belum maju, kemiskinan hadir di pelupuk mata, penyakit di masyarakat bertebaran baik penyakit rohani seperti Penyalahgunaan Narkotika, KKN (Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme), maupun penyakit jasmani HIV-AIDS, demam berdarah, TB, Serangan Jantung, Kanker dan berbagai versi lainnya.

Pertanyaannya adalah sudah benarkah sistem pendidikan nasional kita sesuai amanat UUD 1945? Di mana bangsa ini masih terpuruk dengan hasil dari pendidikan “jauh panggang dari api”. Jika amanat UUD 1945 terlalu tinggi, maka sebaiknya kita   breakdown visi pendidikan nasional.

Breakdown visi pendidikan nasional adalah suatu usaha melihat rencana, proses, dan hasil dalam rangka menyesuaikan kebutuhan dan keterbatasan unsur pendidikan. Unsur dalam hal ini inputnya siswa, yang memproses guru, yang mengorbitkan sekolah dan pemerintah, dan yang menggunakan hasil dari pendidikan adalah masyarakat dan dunia usaha.

Pemerintah nampaknya menyadari pentingnya karakter pada diri SDM. Melalui peraturan menteri pendidikan tentang PPK (Program Penguatan Karakter) menekankan 5 karakter siswa yaitu Religius, Mandiri, Nasionalisme, Gotong royong, dan Integritas. Karakter yang dicanangkan adalah representasi dari intisari Pancasila. Sila pertama ketuhanan yang maha esa bersifat religius. Mandiri dalam kesadaran berlaku adil dan beradab di tengah masyarakat. Persatuan Indonesia adalah jiwa nasionalisme yang bersatu menjalankan kesatuan dalam menjaga keutuhan bangsa. Sifat gotong royong menjiwai sila keempat saling berempati sesama anak bangsa. Sila kelima yaitu kaitan keadilan sosial di padankan dengan integritas agar hukum tidak tebang pilih. Semua itu dalam rangka mewujudkan generasi emas, menjelang 100 tahun Indonesia merdeka.

Pola pembiasaan yang harus dilakukan guru adalah, menjabarkan  PPK dalam 5 karakter utama. Pertama, karakter religius dapat dibentuk dengan pembiasaan taat beribadah, mengamalkan ilmu secara benar, dan beriman kepada Allah Ta’ala yang kokoh. Pembiasaan sholat dhuha dan dzuhur, dijadikan sarana agar anak beribadah menjadi kewajiban, bukan suatu beban. Tentunya harus dipahamkan kepada siswa, bahwa selain mendapat pahala dari suatu ibadah, namun dapat menyehatkan tubuh kita. Kita pastikan siswa tidak pernah putus untuk mengerjakan ibadah. Terus memantau apakah penerapan ibadah siswa benar sesuai dengan tuntunan ibadah yang sahih. Kita harus selalu memantau anak dengan buku kontrol ataupun teman sebayanya. Jika karakter religiaus telah menjadi habbit, maka anak akan berpikir seribu kali untuk berbuat buruk, karena takut kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Kedua, karakter mandiri terwujud ketika kesadaran diri, kerja keras, disiplin, tanggung jawab, amanah telah tumbuh pada diri siswa. Kesadaran diri dapat diasah dengan memotivasi siswa dikaitkan dengan cita-citanya. Sebagai contoh bercita – cita ingin menjadi pilot, maka persiapan yang harus dia lakukan, adalah dengan mengetahui seorang pilot dalam menjalankan profesinya. Pilot harus bisa membaca arah mata angin, cermat dalam mengambil keputusan, dan berkomunikasi yang santun.  Selain itu, karakter mandiri harus dibiasakan kepada siswa, dengan mengerjakan sesuatu dengan sendiri. Bantuan diberikan hanya sebatas arahan dan sesuatu yang ia tidak mampu ia lakukan. Karakter mandiri  menjadi dasar semua cita-cita. Mewujudkan karakter mandiri dapat diramu melalui pembiasaan kerja keras, disiplin, tanggung jawab, amanah agar tercipta kemanusiaan yang adil dan beradab.

Ketiga, karakter nasionalisme dapat ditumbuhkan dengan mengenalkan bahwa bangsa ini merdeka tidaklah mudah.  Para pejuang kemerdekaan harus berkorban milyaran harta, jutaan nyawa, tumpahan darah yang menjadi tebusannya. Maka ramuan berani berkorban dan peduli terhadap sesama harus ditanamkan sejak dini. Generasi saat ini mengisi dan memajuka bangsa dan negara. Bungkarno pernah berkata “Perjuanganku lebih mudah karena mengusir penjajah, tapi perjuanganmu akan lebih sulit karena melawan bangsamu sendiri.”  Musuh yang kita hadapi dalam mengisi kemerdekaan yaitu diri dan bangsa kita sendiri. Perkataan para pahlawan, menghayati lagu kebangsaan, dan memahami simbol negara, juga harus kita ulang-ulang dan biasakan kepada siswa agar tumbuh jiwa bela negaranya. Jika karakter nasionalisme sudah bersemayam dalam sanubari generasi kita, maka Persatuan Indonesia yang kuat dan terjaga akan berlangsung hingga ujung hayat dunia ini.

Keempat, Gotong royong merupakan istilah Indonesia untuk bekerja bersama-sama untuk mencapai suatu hasil yang didambakan. M. Nasroen mengatakan berkaitan dengan gotong royong “karakter gotong royong akan tumbuh jika rasa tolong menolong, kerjasama, bermusyawarah, dan suka memberi bersemayam dalam raga. Dalam mewujudkan jiwa gotong royong, siswa dalam kesehariannya harus beririsan dengan aktivitas kerjasama. Kepentingan bersama jauh lebih baik dari pada kepentingan pribadi. Membudayakan bermusyawarah dalam memutuskan permasalahan. Suka memberi dengan motivasi “jika kita memberi pasti kita akan diberi yang lebih banyak oleh Allah Ta’ala”. Hikmah dan kebijaksanaan hidup akan dapat diraih generasi, jika terbiasa untuk gotong royong.

Kelima, Integritas dalam kamus besar bahasa Indonesia artinya mutu, sifat, atau keadaan yang menunjukkan kesatuan yang utuh sehingga memiliki potensi dan kemampuan yang memancarkan kewibawaan dan kejujuran. Menanamkan integritas kepada siswa merupakan investasi terbaik dalam menjadikan pemimpin yang berkeadilan sosial. Jika pemiimpin kita berwibawa, maka kita tidak akan menjadi negara pengekor. Jika pembuat dasar hukum negara kita berintegritas, maka hukum yang diciptakan tidaklah tumpul keatas, tajam kebawah. Jika penegak hukum yang berintegritas, maka akan terlaksananya keputusan yang bijaksana dan tepat sasaran. Sehingga tidak ada lagi seseorang yang mencuri sandal di hukum 3 tahun, mencuri milyaran rupiah hanya dihukum 30 bulan.

Alhamdulillah SD Muhammadiyah Metro, Lampung sudah melakukan sebagian besar dari 5 karakter utama. Namun perjuangan masih panjang, kebiasaan baik di SD Muhammadiyah harus dipertahankan. Jika ada yang kurang baik, maka di perbaiki. Sehingga terwujud generasi bangsa unggul dalam prestasi yang berakhlak mulia.  Sehingga Islam menjadi agama yang rahmatalil’alamin sebenar-benarnya. Kemudian Insya Allah keberkahan dari Allah Ta’ala melimpahi umat manusia seluruh alam, terutama Indonesia. Semoga.

Wallahu ‘alam bi showab.

Sumber: www.dpdimmlampung.org

1 Komentar

  • Aliquam congue odio ante, condimentum consectetur lacus sagittis sit amet. Cras vehicula ligula eros, interdum sagittis orci facilisis sit amet. Vivamus porta lectus orci, non fermentum mauris dapibus vel. Cras sollicitudin augue at viverra consequat.

Tinggalkan Balasan